Arsip untuk September, 2009

Lailatul Qodar “Malam Kemuliaan”

Lailatul-Qadr-WallpaperNama Lailatul Qodar bukan ciptaan makhluk melainkan langsung dari firman Allah, surat ke-97 yaitu Al Qadr (Kemuliaan) yang artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al Qadr : 1-5).
Kapankah Allah berkehendak menurunkan malam istimewa itu ? Jawabnya, hanya Allah yang tahu. Sebab, Lailatul Qadr sepenuhnya menjadi rahasia Allah. Namun, lewat kebesaranNya pula, Allah menebar tanda-tanda dan gejala yang mampu ditangkap panca indera manusia. Sesuai dengan janji Allah tersebut, Lailatul Qadr turun pada malam hari, yaitu batasnya sejak masuk maghrib atau munculnya garis merah yang memisahkan siang-malam dan terang-gelap hingga terbitnya fajar shadiq, kira-kira setelah menunaikan shalat subuh. Jika ada yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadr tidak terbatas pada malam hari sebagaimana namanya melainkan sepanjang hari, tujuannya hanya untuk memotivasi siapapun agar menjaga kualitas ibadahnya setiap saat.
Ciri-ciri Lailatul Qadr dapat terlihat secara fisik maupun secara psikologis. Secara fisik, tanda-tanda ini akan dirasakan baik oleh

manusia maupun makhluk selain manusia dan alam sekitar. Alam akan menunjukkan anomaly atau gejala yang lain dari biasanya, yaitu terasa lebih temaram dengan dihembusi angin yang tenang. Semua makhluk hidup yang ada di bumi akan merasakan tentram dan nyaman. Namun fenomena alam akan menunjukkan gejala khusus. Jika malam dalam keadaan cerah/tidak hujan, maka bintang-bintang di langit akan terlihat jelas. Jika dalam kondisi mendung, maka udara yang dihembuskan mendung tidak sampai membuat orang menggigil atau sakit. Jika dalam keadaan hujan atau bersalju sekalipun, maka hujan atau salju tersebut tidak sampai menimbulkan was-was atau khawatir. Dengan kata lain, dalam cuaca seperti apapun, manusia dan makhluk lain akan merasakan kedamaian.
Adapun kondisi manusia sendiri, khususnya para muslim/muslimah dan mukmin/mukminah akan timbul keinginan untuk melakukan introspeksi/refleksi diri/bermuhasabah, menimbang baik-buruk perilakunya. Dengan pijakan ini, seseorang akan terdorong untuk menyusun strategi yang lebih baik untuk masa depannya. Secara logika, kondisi psikologis manusia ini dirangsang oleh situasi yang tentram. Pikiran menjadi terang sehingga memungkinkan untuk berpikir lebih jauh tentang masa depan dengan jernih. Keistimewaan malam seribu bulan ini juga bisa diraba melalui perilaku makhluk selain manusia. Binatang, misalnya, pada malam itu tidak ada yang merasa gelisah. Berada di dalam maupun di luar kandang, mereka sama-sama merasa tenang dan tidak bermusuhan baik dengan sesamanya maupun hewan lain. Bahkan seekor macan yang lapar sekalipun akan malas mencari mangsa.
Tumbuh-tumbuhan yang setiap saat sudah berdzikir, pada malam itu terlihat merundukkan diri secara fisik. Ujung-ujung daunnya akan meluruh menghadap ke bawah. Sementara itu gunung berapi akan menghentikan aktivitasnya menyemburkan lahar, lava atau asap pada malam itu. Jika hendak membuktikan secara empiris, bisa dilihat dari alat pencatat aktivitas gunung berapi. Akan didapatkan bahwa pada malam tertentu setiap tahunnya, aktivitas gunung tersebut terhenti sama sekali. Bisa dipastikan bahwa setiap orang yang memahami keistimewaan Lailatul Qadr akan berusaha mendapatkannya dengan cara sebaik-baiknya. Namun ternyata beribadah saja tidaklah cukup, melainkan harus dilandasi dengan pemahaman mengenai hakikat malam seribu bulan.
Tidak semua orang akan mendapatkannya, bahkan mereka yang beruntung menerima hadiah langsung dari Allah tersebut sangat sedikit jumlahnya. Misal, dari seribu orang yang melakukan I’tikaf atau wasilah semalam suntuk di masjid atau makam wali, mungkin hanya dua orang yang benar-benar mendapatkannya.
Seberapa istimewa malam seribu bulan ? sesuai namanya, maka setiap amal ibadah yang dikerjakan pada malam itu akan dilipatgandakan sebanyak seribu bulan (sekitar 83 tahun 4 bulan). Misal, pada malam itu seseorang memberi sedekah sebanyak Rp. 1000,- kepada pengemis, maka amalan ini akan dilipatgandakan seperti bersedekah Rp. 1000,- setiap hari selama 83 tahun 4 bulan terus-menerus.
Lalu siapakah mereka yang dipilih sendiri oleh Allah untuk menerima hadiah-Nya ? Yang berhak mendapatkan Lailatul Qadr adalah setiap muslim yang mukmin atau minimal punya keinginan menjadi mukmin, akil balig, dan masih berpikiran waras. Dari kelompok ini, Allah menjatuhkan pilihannya pada mereka yang berupaya untuk : (1) mencari ridha Allah, baik untuk ibadah wajib maupun tidak wajib, (2) ikhlas dalam beribadah, (3) menjaga hubungan baik dengan Allah, manusia, dan makhluk selain manusia.
Hingga saat ini, hanya Allah, Rasulullah, dan Khulafaur Rasyidin yang memiliki kelebihan untuk mengetahui siapa saja yang telah menerima Lailatul Qadr. Untuk menyikapi Lailatul Qadr dibutuhkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Menonjolkan hari-hari ganjil mulai malam ke-2o hingga ke-30 dibandingkan malam-malam lainnya. Pendapat ini didukung oleh hadis shahih.
2. Sebisa-bisanya seorang muslim mengharapkan ridha Allah, bukan pahala atau surga. Jika ridha Allah didapat maka yang lain (pahala dan surga) pasti mengikuti.
3. Tidak perlu meninggalkan kegiatan yang mengikat dirinya sebagai insan. Misalnya : melakukan pekerjaan sehari-hari sebagai satpam, maka pada malam-malam ganjil tetap lakukan seperti biasa karena pekerjaan adalah amanah dan meninggalkan amanah sama dengan meninggalkan perang fi sabilillah dan itu bukan ciri seorang mukmin. Jika ia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengejar Lailatul Qadr, maka dipastikan ia tidak akan mendapatkannya.
4. Jangan sampai menganggap Lailatul Qadr sebagai terminal akhir kehidupan karena akan kehilangan control diri di tengah kehidupan. Lailatul Qadr adalah terminal di tengah kehidupan karena sesudah mendapatkannya sekalipun, masih banyak karunia Allah yang ditebarkan untuk dinikmati oleh hambanya.

Komentar bertahan »

Makna Malam di Bulan Ramadhan

  1. Malam ke-1 : Allah menghapuskan dosa kita, seperti kita baru dilahirkan oleh sang ibu.
  2. Malam ke-2 : Allah menghapuskan dosa kita dan dosa kedua orangtua kita (bila mereka mukmin).
  3. Malam ke-3 : Malaikat dari Arsy memohon kepada Allah agar ibadah kita diterima serta dihapuskannya dosa kita yang telah lewat.
  4. Malam ke-4 : Diberikan pahala pada kita sebagaimana pahala orang-orang yang telah membaca kitab suci Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.
  5. Malam ke-5 : Diberikan pahala pada kita sebagaimana pahala orang yang melaksanakan shalat di Masjidil Haram (Makkah), Masjid Nabawi (Madinah), dan Masjidil Aqsa (Yerusalem).
  6. Malam ke-6 : Diberikan pahala pada kita sebagaimana pahala mereka yang tawaf di Baitul Makmur. Seluruh batu dan batu bangunan pada bangunan itu memintakan ampunan atas dosa-dosa kita.
  7. Malam ke-7 : Diberikan pahala pada kita seperti pahala orang yang ikut Nabi Musa as melawan Fir’aun dan Haman.
  8. Malam ke-8 : Diberikan pahala pada kita sebagaimana pahala yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim as.
  9. Malam ke-9 : Akan diberikan pahala kepada kita sesuai dengan ibadah seorang nabi.
  10. Malam ke-10 : Allah akan memberikan kebahagiaan dunia akhirat.
  11. Malam ke-11 : Akan dihapuskan dosa kita bila kita meninggal, seperti baru lahir dari perut ibu.
  12. Malam ke-12 : Pada hari kiamat, kita akan bangkit dengan muka yang cemerlang seperti bulan.
  13. Malam ke-13 : Pada hari kiamat, kita akan bebas dari ketakutan yang membuat manusia sedih.
  14. Malam ke-14 : Para malaikat memberi kesaksian shalat tarawih kita, dan Allah tidak akan menghisab kita lagi.
  15. Malam ke-15 : Kita akan menerima shalawat dari para malaikat, termasuk malaikat penjaga Arsy.
  16. Malam ke-16 : Kita akan mendapat tulisan “Selamat” dari Allah. Kita bebas masuk surga dan lepas dari api neraka.
  17. Malam ke-17 : Allah akan memberi pahala sesuai dengan pahala para nabi.
  18. Malam ke-18 : Malaikat akan memohon kepada Allah agar kita dan orangtua kita selalu mendapat restu.
  19. Malam ke-19 : Allah akan mengangkat derajat kita ke surga Firdaus (higher of heaven).
  20. Malam ke-20 : Diberikan pahala sesuai pahala para syuhada dan salehin.
  21. Malam ke-21 : Allah akan membuatkan sebuah bangunan dari cahaya untuk kita di surga.
  22. Malam ke-22 : Kita akan merasa aman dan bahagia pada hari kiamat, karena terhindar dari rasa takut yang amat sangat.
  23. Malam ke-23 : Allah akan membuatkan sebuah kota untuk kita di surga.
  24. Malam ke-24 : Allah akan mengabulkan 24 permohonan selagi kita masih hidup di dunia.
  25. Malam ke-25 : Terbebas dari siksa kubur.
  26. Malam ke-26 : Allah akan mengangkat derajat amal kebaikan sebagaimana derajat amal kebaikan kita selama 40 tahun.
  27. Malam ke-27 : Kita akan secepat kilat bila melewati Siratal mustakim.
  28. Malam ke-28 : Allah akan menaikkan derajat kita 1000 x lipat di surga.
  29. Malam ke-29 : Allah akan memberi pahala pada kita seperti kita melaksanakan ibadah haji mabrur 1000 kali.
  30. Malam ke-30 : Allah akan menyuruh kita untuk memakan semua buah di surga, minum air Telaga Kautsar, mandi air salsabil (air surga). Karena kita adalah hamba Allah yang setia.

Komentar bertahan »

My Poerty

Lorong ini terasa sunyi dan gelap
Ketika kutelusuri langkah demi langkah
Pengap dan bau menjijikkan lainnya
Segera saja menyergap hidung
Sejauh mata memandang
Tak kulihat seberkas cahaya menghampiri
Aku sendiri, tanpa tongkat dan arah yang pasti
Tak ada tangan yang terjulur
Tak ada ujung maupun akhir
AKu terdiam, termangu dan kelaparan
Kubasuh dahaga dengan peluhku
Sambil terus berjalan
Menapaki alur yang penuh liku

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.