Lailatul Qodar “Malam Kemuliaan”

Lailatul-Qadr-WallpaperNama Lailatul Qodar bukan ciptaan makhluk melainkan langsung dari firman Allah, surat ke-97 yaitu Al Qadr (Kemuliaan) yang artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al Qadr : 1-5).
Kapankah Allah berkehendak menurunkan malam istimewa itu ? Jawabnya, hanya Allah yang tahu. Sebab, Lailatul Qadr sepenuhnya menjadi rahasia Allah. Namun, lewat kebesaranNya pula, Allah menebar tanda-tanda dan gejala yang mampu ditangkap panca indera manusia. Sesuai dengan janji Allah tersebut, Lailatul Qadr turun pada malam hari, yaitu batasnya sejak masuk maghrib atau munculnya garis merah yang memisahkan siang-malam dan terang-gelap hingga terbitnya fajar shadiq, kira-kira setelah menunaikan shalat subuh. Jika ada yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadr tidak terbatas pada malam hari sebagaimana namanya melainkan sepanjang hari, tujuannya hanya untuk memotivasi siapapun agar menjaga kualitas ibadahnya setiap saat.
Ciri-ciri Lailatul Qadr dapat terlihat secara fisik maupun secara psikologis. Secara fisik, tanda-tanda ini akan dirasakan baik oleh

manusia maupun makhluk selain manusia dan alam sekitar. Alam akan menunjukkan anomaly atau gejala yang lain dari biasanya, yaitu terasa lebih temaram dengan dihembusi angin yang tenang. Semua makhluk hidup yang ada di bumi akan merasakan tentram dan nyaman. Namun fenomena alam akan menunjukkan gejala khusus. Jika malam dalam keadaan cerah/tidak hujan, maka bintang-bintang di langit akan terlihat jelas. Jika dalam kondisi mendung, maka udara yang dihembuskan mendung tidak sampai membuat orang menggigil atau sakit. Jika dalam keadaan hujan atau bersalju sekalipun, maka hujan atau salju tersebut tidak sampai menimbulkan was-was atau khawatir. Dengan kata lain, dalam cuaca seperti apapun, manusia dan makhluk lain akan merasakan kedamaian.
Adapun kondisi manusia sendiri, khususnya para muslim/muslimah dan mukmin/mukminah akan timbul keinginan untuk melakukan introspeksi/refleksi diri/bermuhasabah, menimbang baik-buruk perilakunya. Dengan pijakan ini, seseorang akan terdorong untuk menyusun strategi yang lebih baik untuk masa depannya. Secara logika, kondisi psikologis manusia ini dirangsang oleh situasi yang tentram. Pikiran menjadi terang sehingga memungkinkan untuk berpikir lebih jauh tentang masa depan dengan jernih. Keistimewaan malam seribu bulan ini juga bisa diraba melalui perilaku makhluk selain manusia. Binatang, misalnya, pada malam itu tidak ada yang merasa gelisah. Berada di dalam maupun di luar kandang, mereka sama-sama merasa tenang dan tidak bermusuhan baik dengan sesamanya maupun hewan lain. Bahkan seekor macan yang lapar sekalipun akan malas mencari mangsa.
Tumbuh-tumbuhan yang setiap saat sudah berdzikir, pada malam itu terlihat merundukkan diri secara fisik. Ujung-ujung daunnya akan meluruh menghadap ke bawah. Sementara itu gunung berapi akan menghentikan aktivitasnya menyemburkan lahar, lava atau asap pada malam itu. Jika hendak membuktikan secara empiris, bisa dilihat dari alat pencatat aktivitas gunung berapi. Akan didapatkan bahwa pada malam tertentu setiap tahunnya, aktivitas gunung tersebut terhenti sama sekali. Bisa dipastikan bahwa setiap orang yang memahami keistimewaan Lailatul Qadr akan berusaha mendapatkannya dengan cara sebaik-baiknya. Namun ternyata beribadah saja tidaklah cukup, melainkan harus dilandasi dengan pemahaman mengenai hakikat malam seribu bulan.
Tidak semua orang akan mendapatkannya, bahkan mereka yang beruntung menerima hadiah langsung dari Allah tersebut sangat sedikit jumlahnya. Misal, dari seribu orang yang melakukan I’tikaf atau wasilah semalam suntuk di masjid atau makam wali, mungkin hanya dua orang yang benar-benar mendapatkannya.
Seberapa istimewa malam seribu bulan ? sesuai namanya, maka setiap amal ibadah yang dikerjakan pada malam itu akan dilipatgandakan sebanyak seribu bulan (sekitar 83 tahun 4 bulan). Misal, pada malam itu seseorang memberi sedekah sebanyak Rp. 1000,- kepada pengemis, maka amalan ini akan dilipatgandakan seperti bersedekah Rp. 1000,- setiap hari selama 83 tahun 4 bulan terus-menerus.
Lalu siapakah mereka yang dipilih sendiri oleh Allah untuk menerima hadiah-Nya ? Yang berhak mendapatkan Lailatul Qadr adalah setiap muslim yang mukmin atau minimal punya keinginan menjadi mukmin, akil balig, dan masih berpikiran waras. Dari kelompok ini, Allah menjatuhkan pilihannya pada mereka yang berupaya untuk : (1) mencari ridha Allah, baik untuk ibadah wajib maupun tidak wajib, (2) ikhlas dalam beribadah, (3) menjaga hubungan baik dengan Allah, manusia, dan makhluk selain manusia.
Hingga saat ini, hanya Allah, Rasulullah, dan Khulafaur Rasyidin yang memiliki kelebihan untuk mengetahui siapa saja yang telah menerima Lailatul Qadr. Untuk menyikapi Lailatul Qadr dibutuhkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Menonjolkan hari-hari ganjil mulai malam ke-2o hingga ke-30 dibandingkan malam-malam lainnya. Pendapat ini didukung oleh hadis shahih.
2. Sebisa-bisanya seorang muslim mengharapkan ridha Allah, bukan pahala atau surga. Jika ridha Allah didapat maka yang lain (pahala dan surga) pasti mengikuti.
3. Tidak perlu meninggalkan kegiatan yang mengikat dirinya sebagai insan. Misalnya : melakukan pekerjaan sehari-hari sebagai satpam, maka pada malam-malam ganjil tetap lakukan seperti biasa karena pekerjaan adalah amanah dan meninggalkan amanah sama dengan meninggalkan perang fi sabilillah dan itu bukan ciri seorang mukmin. Jika ia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengejar Lailatul Qadr, maka dipastikan ia tidak akan mendapatkannya.
4. Jangan sampai menganggap Lailatul Qadr sebagai terminal akhir kehidupan karena akan kehilangan control diri di tengah kehidupan. Lailatul Qadr adalah terminal di tengah kehidupan karena sesudah mendapatkannya sekalipun, masih banyak karunia Allah yang ditebarkan untuk dinikmati oleh hambanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: